Selasa, 07 Agustus 2007

"Kyoiku Mama"

Di antara banyak faktor yang berperan membuat Jepang menjadi raksasa ekonomi di
paruh kedua abad XX adalah etika kerja dari karyawan yang stereotip.


Orang-orang yang biasa berbaju biru tua inilah yang merupakan mesin penggerak
salah satu sukses ekonomi terbesar dalam sejarah modern. Beginilah bunyi cerita
yang telah melegenda, sebelum datang kesaksian dari Tony Dickensheets. Dia
adalah seorang pendidik Amerika di Charlottesville, Virginia.


Peran ibu
Pada tahun 1996 dia berkesempatan beberapa bulan menetap di Jepang. Selama itu,
ia berpindah-pindah tinggal di beberapa rumah keluarga karyawan. Berdasar
pengamatannya, dia berkesimpulan, unsur kunci dari economic miracle Negeri
Sakura ini ternyata telah diabaikan atau paling sedikit amat dianggap enteng,
yaitu peran kyoiku mama atau education mama.
Dengan kataan lain, pertumbuhan ekonomi Jepang yang luar biasa sejak 1960,
bukanlah hasil kebijakan pemerintah melalui pekerja yang bersedia bekerja 16
jam per hari. Sementara para suami bekerja, para istri bertanggung jawab atas
pendidikan anak-anak. Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan
hidupnya demi kepastian keturunan mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu.
Maka di balik karyawan Jepang yang beretika kerja terpuji itu ada perempuan
umumnya, kyoiku mama atau education mama khususnya. Mereka inilah yang
merupakan pilar-pilar kukuh yang menyangga para karyawan itu. Merekalah yang
membantu perkembangan ekonomi yang luar biasa dari bangsanya sesudah Perang
Dunia. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat dalam jalannya
pendidikan nasional dan stabilitas sosial, yaitu dua hal yang sangat krusial
bagi keberhasilan ekonomi sesuatu bangsa.
Jadi, perempuan Jepang ternyata berperan positif dalam membina dan
mempertahankan kekukuhan fondasi pendidikan dan sosial yang begitu vital bagi
kinerja kebangkitan ekonomi bangsanya. Ketika saya sebagai menteri pendidikan
dan kebudayaan diundang untuk meninjau berbagai lembaga pendidikan dasar,
menengah, dan tinggi negeri ini, saya kagum melihat kebersihan ruang
laboratorium di sekolah umum dan bengkel praktik di sekolah kejuruan teknik.
Semua murid membuka sepatu sebelum memasuki ruangan dan menggantinya dengan
sandal jepit yang sudah tersedia di rak dekat pintu, jadi lantai tetap bersih
bagai kamar tidur. Ketika saya tanyakan kepada guru yang mengajar di situ
bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, "Yang
mulia, saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang
telah mengajar anak-anak berbuat begitu."
Saya teringat sebuah kebiasaan di rumah tradisional Jepang, alih-alih menyapu
debu di lantai, mereka masuk rumah tanpa bersepatu/bersandal agar debu tidak
masuk rumah. Bagi mereka, kebersihan adalah suatu kebajikan.
Di toko buku, saya melihat seorang ibu sedang memilih-milih buku untuk anaknya,
seorang murid SD. Ketika saya sapa, dia menyadari saya orang asing, dia tegak
kaku dengan tersenyum malu-malu. Ibunya datang mendekati dan menekan kepala
anaknya agar membungkuk berkali-kali, sebagaimana layaknya orang Jepang memberi
hormat, sambil mengucapkan sesuatu yang lalu ditiru anaknya. Setelah mengetahui
saya seorang menteri pendidikan dan kebudayaan, entah atas bisikan siapa,
banyak anak menghampiri saya, antre, memberi hormat dengan cara nyaris merukuk,
meminta saya menandatangani buku yang baru mereka beli.


Perempuan dan pendidikan
Lebih daripada di negeri-negeri lain, kelihatannya sistem pendidikan dan
kebudayaan Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan
anak. Karena itu dipegang teguh kebijakan ryosai kentro (istri yang baik dan
ibu yang arif), yang menetapkan posisi perempuan selaku manajer urusan rumah
tangga dan perawat anak-anak bangsa. Sejak dulu filosofi ini merupakan bagian
dari mindset Jepang dan menjadi kunci pendidikan dari generasi ke generasi.
Pada paruh kedua abad XX peran kerumahtanggaan perempuan Jepang kian
dimantapkan selaku kyoiku mama atau education mama. Menurut Tony Dickensheets,
hal ini merupakan "a purely Japanese phenomenon".
Yang memantapkan itu adalah kesadaran para ibu Jepang sendiri. Mereka menilai
diri sendiri dan, karena itu, dinilai oleh masyarakat berdasar keberhasilan
anak-anaknya, baik sebagai warga, pemimpin, maupun pekerja. Banyak perempuan
Jepang menganggap anak sebagai ikigai mereka, rasionale esensial dari hidup
mereka. Setelah menempuh sekolah menengah, kebanyakan perempuan Jepang
melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Jika di Barat ada anggapan perempuan berpendidikan akademis yang melulu tinggal
di rumah membesarkan anak sebagai wasting her talents, di Jepang orang percaya,
seorang ibu seharusnya berpendidikan baik dan berpengetahuan cukup untuk bisa
memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya. Kalaupun ada ibu yang mencari
nafkah, biasanya bekerja part time agar bisa berada di rumah saat anak-anak
pulang sekolah. Tidak hanya untuk memberi makan, tetapi lebih-lebih membantu
mereka menyelesaikan dan menguasai PR dan atau menemani mengikuti pelajaran
privat demi penyempurnaan pendidikannya.


Membantu ekonomi bangsa
Perempuan Jepang membantu kemajuan ekonomi bangsa dengan dua cara, yaitu
melalui proses akademis dan proses sosialisasi. Bagi orang Jepang, aspek
sosialisasi pendidikan sama penting dengan aspek akademis, sebab hal itu
membiasakan anak-anak menghayati nilai-nilai yang terus membina konformitas
sikap dan perilaku yang menjamin stabilitas sosial.
Mengingat kyoiku mama mampu membina kehidupan keluarga yang relatif stabil,
sekolah tidak perlu terlalu berkonsentrasi pada masalah pendisiplinan. Lalu,
para guru punya ketenangan dan waktu cukup untuk membelajarkan pengetahuan,
keterampilan, kesahajaan, pengorbanan, kerja sama, tradisi, dan lain-lain
atribut dari sistem nilai Jepang.
Menurut Tony Dickensheets, sejak dini para pelajar Jepang menghabiskan lebih
banyak waktu untuk kegiatan sekolah daripada pelajar-pelajar Amerika. Lama
rata-rata tahun sekolah anak Jepang adalah 243 hari, sedangkan anak Amerika 178
hari. Selain menambah kira-kira dua bulan dalam setahun untuk sekolah, sebagian
besar waktu libur anak- anak Jepang diisi dengan kegiatan bersama teman sekelas
dan guru. Bila pekerja/karyawan berdedikasi pada perusahaan, anak-anak
berdedikasi pada sekolah. Mengingat tujuan sekolah meliputi persiapan untuk
hidup bekerja, anak didik Jepang bisa disebut pekerja/karyawan yang sedang
dalam proses training.
Walaupun pemerintah yang menetapkan tujuan sistem pendidikan Jepang,
keberhasilannya ditentukan oleh orang-orang yang merasa terpanggil untuk
menangani pendidikan. Jika bukan guru, sebagian terbesar dari mereka ini,
paling sedikit di tingkat pendidikan dasar, adalah perempuan, ibu-ibu Jepang,
kyoiku mama. Mereka inilah yang membentuk masa depan Jepang, melalui jasanya
dalam pendidikan anak-anak.
Maka sungguh menarik saat di tengah gempita perayaan keberhasilan gadis Jepang
menjadi Miss Universe 2007 di Meksiko, ada berita ibu-ibu Jepang mencela
peristiwa itu sebagai penghargaan terhadap kesekian perempuan belaka, bukan
penghormatan terhadap kelembutan dan prestasi keperempuanan Jepang.
Celaan itu pasti merupakan cetusan nurani kyoiku mama. Berita ini bisa dianggap
kecil karena segera menghilang. Namun di tengah pekatnya kegelapan, sekecil apa
pun cahaya nurani tetap bermakna besar.
Daoed Joesoef Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan; Penulis Buku "Emak"


sumber:http://www.mail-archive.com/rantaunet@googlegroups.com/msg03776.html

Tidak ada komentar: