Dalam tulisannya, "Creating a Poverty-Free World" (Asian Business Wisdom 2001), pemenang Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus, menyebut, besarnya kemiskinan di dunia disebabkan kita tidak menangani masalah ini secara benar.
Kemiskinan tidak diciptakan oleh orang miskin atau karena kurangnya permintaan atas tenaga kerja. Kemiskinan terjadi karena kegagalan kita untuk menciptakan kerangka kerja teoretis, lembaga-lembaga, dan kebijakan untuk menunjang kemampuan (capabilities) manusia," ujar Yunus, pendiri dan Direktur Pengelola Grameen Bank, Banglades (Grameen artinya pedesaan dalam bahasa Bengali).
Yunus yang doktor ekonomi pertama kali tergerak mengadakan kredit untuk orang miskin ketika bertemu dengan pembuat kursi bambu, Sufiya Khatun, di Desa Jobra, dekat Universitas Cittagong, Banglades.
"Saya ingin melepaskan diri dari kesombongan yang menyertai seorang PhD: kecenderungan melihat situasi dengan sudut pandang mata burung (maksudnya melihat secara makro dari atas). Saya mencoba mendapatkan sudut pandang cacing—berfokus pada satu persoalan kecil dan mencoba berada di atasnya—sebuah strategi yang lebih efektif karena berangkat dari kenyataan lapangan," tulis Yunus.
Sufiya, janda beranak dua, membuat bangku yang indah, tetapi Yunus terkejut ketika tahu Sufiya hanya mendapat penghasilan 2 sen dollar AS (kira-kira sekarang nilainya Rp 180) per hari.
Segera Yunus mengetahui persoalan yang dihadapi Sufiya—dan jutaan orang seperti Sufiya, yaitu orang-orang yang bekerja keras tetapi tetap melarat hanya karena tidak memiliki aset pada sejumlah kecil modal—yaitu tiadanya akses pada modal awal yang jumlahnya kecil saja.
"Dalam kenyataan, mesin ekonomi dirancang begitu rupa, yaitu penghasilan orang lain dapat membuat segelintir orang menjadi lebih kaya setiap hari, sementara pada saat yang sama membuat sejumlah besar yang lain menjadi gembel. Jantung dari mesin ekonomi ini adalah kegagalan ekonomi sebagai ilmu sosial," tulis Yunus.
Yunus berkeyakinan kredit adalah alat yang netral. Menurut Yunus, orang miskin tetap miskin, sebab mereka tidak dapat mempertahankan hasil kerja mereka. Mereka bekerja untuk keuntungan orang yang mengontrol modal, dan orang miskin tidak memiliki kontrol terhadap modal.
Uang sendiri
Yunus meminjamkan 27 dollar AS uangnya sendiri kepada 42 orang di Dusun Jobra. Beberapa hari kemudian dia berpikir akan lebih baik bila mereka mendapat pemecahan masalah yang langgeng, yaitu dengan menghubungkan mereka dengan bank.
Ketika Yunus mendatangi bank, orang bank menganggap dia bercanda. Saat mengetahui Yunus serius, mereka mengatakan tidak dapat membantu, sebab orang-orang miskin tidak memiliki kolateral (jaminan). Dengan kata lain, orang-orang tersebut tidak layak bank.
Meskipun Yunus sudah membuktikan caranya berhasil di lima kecamatan, bank tetap tidak percaya. Karena itulah pada tahun 1983 dia mendirikan Grameen Bank sebagai bank khusus untuk orang miskin.
Kini, Grameen beroperasi di 39.000 dari 68.000 desa di Banglades, melayani 2,4 juta peminjam, 94 persennya adalah perempuan miskin, dengan bunga 20 persen yang dibayar dalam 52 minggu.
"Tingkat pengembalian di bank kami 97 persen, lebih tinggi dibandingkan lembaga keuangan mana pun, yang membuktikan kredit tidak selalu harus berurusan dengan kolateral (jaminan) agar peminjam mengembalikan pinjamannya," papar Yunus.
Banknya menguntungkan, meminjamkan 35 juta dollar AS setiap bulan.
Yunus mengkritik para ekonom yang menurut dia secara konsisten gagal memahami kekuatan sosial kredit. "Kredit menciptakan hak pada sumber daya. Dengan demikian, kredit menciptakan kekuatan ekonomi, yang akhirnya menghasilkan kekuatan sosial," papar Yunus.
Menjangkau perempuan
Grameen bukan sekadar bank tradisional yang kebetulan mengurus orang miskin. Untuk berhasil sebagai program mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan sebagai bank, "Grameen harus melakukan dua hal: menjangkau orang miskin dan memastikan disiplin dalam pengembalian kredit," paparnya.
Menjangkau orang miskin dilakukan bukan dengan mengidentifikasi pekerjaan atau lokasi geografi, melainkan dengan menjangkau 50 persen populasi yang hidup di bawah garis kemiskinan, terutama perempuan, karena mereka yang menanggung beban terberat kemiskinan.
Di Banglades, menurut Yunus, ada keadaan yang membuat hampir tidak mungkin menarik perempuan menjadi peminjam. Mereka berhadapan dengan tentangan dari pemimpin agama dan gosip menakutkan—akan dijual sebagai budak, diumpankan kepada macan, ditenggelamkan ke laut, dan isu SARA—bila meminjam pada Grameen.
Akibatnya, hanya perempuan paling membutuhkan yang nekat datang ke Grameen. Lagi pula, petugas Grameen yang mendatangi perempuan miskin itu sehingga menjamin penerima memang orang yang membutuhkan.
Disiplin pengembalian kredit menjadi keharusan, sebab menurut Yunus, kredit bukan kegiatan amal yang akhirnya tidak menyelesaikan masalah kemiskinan. Untuk itu, Yunus membangun sistem "jaminan (kolateral) sosial".
Para peminjam adalah perempuan yang tidak punya tanah yang membentuk kelompok lima orang. Dua di antara yang termiskin mendapat pinjaman pertama. Tiga yang lain belum akan mendapat pinjaman sampai dua yang pertama mengembalikan pinjaman secara rutin.
Cara ini membangun jejaring dukungan/tekanan kelompok: anggota kelompok akan menekan anggota yang sengaja melanggar kesepakatan dengan Grameen dan akan mendukung bila ada anggota yang kesulitan dalam kegiatan ekonominya.
Meningkatkan daya tawar
Lalu, apa manfaat Grameen terhadap posisi perempuan?
Pemenang Nobel ekonomi, Amartya Sen, menyebut, di dalam rumah tangga terjadi "konflik kooperatif", yaitu terjadinya kerja sama dan konflik secara simultan, sebab tiap anggota keluarga mencoba mendapat keuntungan dengan bekerja sama dengan yang lain.
Di dalam situasi itu, pembagian aktual sumber daya rumah tangga bergantung pada proses tawar-menawar terselubung, dan orang dengan daya tawar lebih tinggi akan menikmati pembagian sumber daya lebih besar.
Daya tawar itu ditentukan tiga hal: posisi status quo, yaitu bagaimana seseorang dapat berbuat tanpa bantuan yang lain; kebutuhan yang disadari; dan sumbangan terhadap sumber daya keluarga.
Penelitian Lutfun Nahar Khan Osmani (1998) untuk desertasi doktornya di Fakultas Ekonomi Oueen’s University, Belfast, memperlihatkan, perempuan penerima kredit Grameen meningkat secara nyata daya tawarnya di dalam keluarga. Itu bila diukur dari perasaan terhadap besarnya sumbangan pada sumber daya keluarga dan posisi status quo, dibandingkan dengan mereka yang tidak ikut di dalam kredit Grameen.
Kegiatan ekonomi mereka ikut menghasilkan pendapatan tunai telah meningkatkan rasa percaya diri bila terjadi sesuatu mereka akan dapat bertahan.
Meskipun demikian, kesadaran bahwa mereka memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi belum berubah.
"Jelas proses budaya berpuluh tahun tidak dapat diubah dalam waktu begitu pendek (oleh kehadiran kredit Grameen Bank) melalui kegiatan ekonomi," papar Osmani.
Di Indonesia, pemberian kredit dengan sistem tanggung renteng—jaminan oleh anggota kelompok—juga dilakukan. Bank Rakyat Indonesia pernah menjadi tempat Grameen Bank belajar. Namun, seperti ditunjukkan Grameen Bank, untuk dapat memberi hasil, perlu konsistensi dan keberpihakan dalam kerja yang panjang.
oleh:Ninuk Mardiana Pambudy
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0611/13/swara/3085311.htm
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar